Ketika harga diri bangsa ini di injak-injak oleh oranf-orang yang tak punya hati nurani
Dianggap rendah oleh Mereka yang berkuasa
Kinilah saatnya kita bangkit dari keterpurukan, kehancuran dan tidak berdayaan
Diawali dari untaian goresan dan letusan senjata api dikala dulu
Disanalah tercantum semua impian dan harapan anaka negeri untuk berdiri sendiri
Dan kini telah menjadi pupus dikala orang - orang munafik hadir menduduki tahta
Dulu kian terasa bersama dan bersatu dalam meraih hasrat untuk harga diri negeri
Yang selalu dihati dalam perjuangkan
Tahukah engkau ..
Mereka berjuang untuk siapa ?
Mati untuk siapa ?
Dan hidup untuk siapa ?
Mana balas jasamu atas Mereka ?
Mana perjuanganmu atas Mereka ?
Mana Janji mu untuk Mereka dan Kami?
Bukan nyawa dan harta yang Mereka inginkan
Tapi,
Jiwa yang tulus untuk mengabdi kepada negeri dan Rakyat ini...
Apakah Kalian tahu dan berfikir
Diluar sana masih banyak rakyat yang belum merasakan kemerdekaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan
dan Ketidakadilan serta masih banyak keluarga korban-korban yang tak terpedulikan
Masih saja mendera rakyat ini..
Hanya karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab telah mengabaikan ini
Koruptor ada dimana-mana
Menghancurkan masa depan anak negeri ini
Bangkitlah rakyat dan saudara ku
Bangunlah Negeri ini menjadi Bangsa yang beradab
Untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya bukan janji yang teringkari
Wahai pemuda -pemudi Negeri ku
Teruskanah perjuangan Bangsa ini
Lanjutkanah Cita-cita Mereka
yang telah mengabdi pada negri dan bangsa ini
Untuk melihat Sang kejayaan bak dulu lagi
Semoga Isi Hati dan Hasrat rakyat negeri ku ini memberikan yang terbaik bagi Bangsa ini..Amin
Ta jak ban laku Linggang Ta pinggang ban laku ija Ta ngui ban laku tuboh Ta pajoh ban laku atra
Sabtu, 25 Januari 2014
Senin, 13 Januari 2014
“Aceh Nyaris Berdiri Sendiri” ( Sepak Terjang Abu Krueng Kalee)“
Abu Krueng Kalee nyaris membuat Aceh menjadi sebuah
negara yang berdiri sendiri. Namun semuanya buyar setelah usulan itu tak
diterima Daud Beureueh karena sudah tertipu janji palsu
Soekarno...”Tgk. Muhammad Hasan Krueng KaleeSapaan akrab Abu Krueng
Kalee jika bertandang ke Gampong Siem, Aceh Besar, mungkin tak asing
lagi bagi masyarakat di sana. Tgk H Muhammad Hasan Krueng Kalee itulah
nama aslinya yang kini telah bersemat megah di sebuah pondok pesantren:
Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee. Pesantren itu juga dikenal dengan
sebutan “Dayah Manyang”.Abu Krueng Kalee merupakan salah satu ulama
kharismatik Aceh. Ia lahir pada 13 Rajab 1304 H/18 April 1886 M di
Gampong Langgoe Meunasah Keutumbu, Mukim Sangeue, Kabupaten Pidie. Abu,
begitu ia disapa, selain piawai dalam mengajarkan ilmu agama dan
pendidikan, juga menjadi sosok ulama yang begitu peduli dengan keadaan
politik dan sosial Aceh pada masa-masa kemerdekaan Indonesia tahun
1945.Pandangan Politik AbuBerbicara masalah politik (siyasah) bukan
barang langka bagi Abu, terlebih setelah Indonesia merdeka. Abu piawai
dalam mengambil berbagai keputusan politik di Aceh, karena didasari pada
penguasaannya terhadap pelbagai ilmu sejarah, baik sejarah Islam
(tarikh al Islamy) maupun dunia.Dari itu, Abu mampu mengkaji
elemen-elemen sosial dan politik dalam menghadapi berbagai persoalan dan
peristiwa yang muncul saat itu.Dalam biografi singkat “Teungku Haji
Muhammad Hasan Krueng Kalee (1886-1973): Ulama Besar dan Guru Umat” yang
diterbitkan Yayasan Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee disebutkan, pada
hakikatnya seseorang yang ingin mendalami kandungan Alquran dengan baik
dan benar, mutlak harus mengetahui Sirah Nabawiyah sebagai upaya
mengambil suatu hukum dan i’tibar serta memahami dengan benar ilmu fiqh
sirah.Hal itulah yang dipraktikkan Abu dalam menghadapi berbagai
peristiwa politik yang terjadi di Aceh dan nusantara semasa
hidupnya.Aceh Nyaris Berdiri SendiriDi Blang Padang, Banda Aceh, ada
sebuah bangunan tua bekas pusat pemerintahan Belanda. Kini telah berubah
wujud. Dijadikan SMA Negeri 1 Banda Aceh.Di ‘gedung setan’, sebutan
rakyat Aceh waktu itu terhadap kantor Belanda (SMAN 1 Banda Aceh kini),
menjadi saksi bisu fakta sejarah tanggal 20 Maret 1949. Di gedung itulah
pertemuan penting para tokoh-tokoh di Aceh berlangsung, salah satunya
Abu Krueng Kalee.Pertemuan itu membahas isi sebuah surat tertanggal 17
Maret 1949 yang dikirim Wali Negara Sumatera Timur, DR Teungku Mansur ke
Aceh. Saat itu Aceh merupakan provinsi yang dipimpin seorang Gubernur
Militer dan Sipil yang membawahi wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo.
Dan surat itu berisi undangan kepada Tgk M Daud Beureueh selaku Gubernur
Militer Aceh untuk menghadiri rapat yang diberi nama “Muktamar
Sumatera” untuk membahas pembentukan “Negara Republik Federasi
Sumatera”.Padahal, Muktamar Sumatera itu merupakan gagasan terselubung
dari politiknya Gubernur Hindia Belanda Van Mook untuk memecah-belah
wilayah Indonesia yang sudah memproklamirkan kemederkaannya bisa bubar.
Van Mook melakukan itu karena seluruh wilayah di Indonesia saat itu
telah berhasil diduduki Belanda pascaagresi militer ke II tahun
1948.Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah kepemimpinan
Syahruddin Prawiranegara yang dibentuk atas perintah Soekarno, akhirnya
harus pindah-pindah, yakni ke Yogyakarta, Bukit Tinggi, dan Aceh, karena
kala itu ibukota RI di Jakarta telah diduduki Belanda serta sejumlah
tokoh nasional dan termasuk Soekarno telah berhasil ditawan
Belanda.Hanya Aceh, satu-satunya yang sepanjang perang revolusi fisik
(1945-1949) tidak berhasil diduduki Belanda, sehingga gagasan yang
ditawarkan oleh Van Mook untuk bergabung dalam Negara Republik Federasi
Sumatera (NRFS) akan membuat Indonesia pada akhirnya tak lagi
berwujud.Kepentingan Belanda untuk Aceh agar bergabung bersama NRFS
sangat besar. Aceh dianggap Belanda telah menjadi daerah modal RI dan
tak lagi memberi dukungan dan perjuangan untuk rakyat Indonesia ke
wilayah lain.Suasana ‘gedung setan’ pun hari itu berlangsung panas.
Terjadi perdebatan sejak jam 10 pagi sampai jelang jam 11 malam.
Hasilnya berupa tiga pilihan: sebagian menerima ajakan Van Mook
bergabung bersama NRFS; sebagian ingin memproklamasikan Aceh sebagai
negara sendiri; dan sebagian tetap setia mempertahankan negara Republik
Indonesia.Dari tiga pilihan itu, hanya Abu yang mengusulkan Aceh untuk
berdiri sendiri. Berbagai pertimbangan Abu uraikan. Menurutnya, roda
pemerintahan Republik Indonesia sudah lumpuh. Secara defacto, wilayah RI
sudah kembali diduduki Belanda, kecuali Aceh.Selain itu, Aceh telah
memiliki sejarah dan kemampuan secara militer untuk berdiri sendiri
lewat salah satu komando Tgk Daud Beureueh yang menjabat Gubernur
Militer dan Sipil untuk Aceh, Langkat, dan, Tanah Karo, sehingga
berbagai alat persenjataan berat peninggalan Jepang yang berhasil
dikuasai pejuang Aceh bisa menjadi salah satu modal kemampuan Abu dan
para ulama lain untuk menggalang kekuatan rakyat dalam mendukung gagasan
tersebut.Namun saat berbagai gagasan dan uraian disampaikan Abu, Tgk
Daud Beureueh juga meminta pendapat peserta rapat atas tawaran Van Mook,
tetapi tidak ada satupun dari mereka memberikan tanggapan.Menurut Tgk
Ishak Ibrahim, salah satu anggota TNI yang pernah bertugas di Makassar
dan pada masa DI/TII menjabat sebagai komandan Batalion DI/TII wilayah
Darussalam, malam itu Tgk Daud Beureueh akhirnya menanyakan tanggapan ke
Abu tentang tawaran Van Mook.Abu dengan tegas menjawab, “Kalau mau
senang, lepaskan Aceh dari RI. Ambil yang baik meskipun itu keluar dari
mulut rimueng (harimau).”Tgk Daud Beureueh menentang keras jawaban Abu.
Padahal sosok Abu di mata Daud Beureueh adalah seorang guree (guru).
Daud Beureueh pun kembali mempertegas: kesetiaan rakyat Aceh terhadap RI
bukan dibuat-buat, melainkan kesetian yang tulus dan ikhlas dengan hati
nurani yang penuh perhitungan dan perkiraan.Dalam pidatonya, Tgk Daud
Beureueh mengatakan “…sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk
suatu Aceh Raya, karena kita di sini bersemangat Republiken. Untuk itu,
undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak
ada saja, dari karena itu tidak kita balas.”Penolakan Tgk Daud Beureueh
juga didasari atas keyakinannya bahwa Soekarno akan menepati janji-janji
yang telah disampaikan dengan linangan air mata kepadanya dalam
kunjungan ke Aceh tahun 1948. Pada Tgk Daud Beureueh, Soekarno berjanji
akan memberikan izin bagi Aceh untuk mengurus daerahnya sendiri dan
menjalankan syariat Islam.Akhirnya, usulan Abu tak mendapat dukungan
penuh dari peserta rapat. Ia kalah oleh pandangan mayoritas yang ingin
tetap bergabung dengan RI. Hasil akhir pun memutuskan untuk menolak
ajakan DR Teungku Mansur dan gejolak membentuk NRFS berakhir dengan
sendirinya.Akan tetapi semangat Abu Krueng Kalee belum surut. Ia
didampingi muridnya Tgk Idrid Lamnyong di kediamannya di Banda Aceh,
kembali mengajak Tgk Daud Beureueh mendirikan Pemerintahan Aceh. Ajakan
itu diungkapkannya sehari menjelang penyerahaan kekuasaan Belanda kepada
Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) di Den Haag, 27
Desember 1949.Namun jawaban Daud Beureueh juga tak berubah. Perdebatan
sengit pun kembali terjadi, hingga akhirnya Abu mengatakan, “mulai
jinoe, bek ka peugah sapeu le bak lon, kah hana ka teupeu… (mulai
sekarang jangan katakan apapun lagi pada saya, kamu tidak tahu—apa yang
saya tahu—)… .”Logika Agama dan Ilmu HakikahMenelaah secara logika, apa
yang disampaikan Tgk Daud Beureueh lewat pandangannya bersama
tokoh-tokoh lain untuk mendukung Aceh tetap bergabung dengan Republik
Indonesia memang tidak dapat disalahkan.Pandangan tersebut terlihat dari
motivasi dan prinsip mashalah yang lebih besar, karena demi
memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia yang pada saat
itu mati suri. Apalagi janji-janji Soekarno masih begitu terpatri dalam
setiap ingatan rakyat Aceh, sehingga sulit dipercaya jika janji itu akan
dikhianati dikemudian hari. Bak seorang negarawan sejati tentu akan
mengambil kesimpulan yang sama dengan Daud Beureueh.Abu sendiri dalam
menilai persoalan ini tetap merujuk pada logika agama. Namun di sisi
lain Abu juga melihat dengan ilmu hakikah atau disebut ilmu firasat
(laduni). Salah satu ilmu yang diberikan Allah SWT kepada para walinya
yang telah mencapai maqam ma’rifah, sehingga sulit bagi awam untuk
mengerti pada awalnya.Jelas sekali padangan Abu sangat bertolak belakang
jika merujuk apa yang terjadi pada Maklumat Ulama sebelumnya. Namun
bagi orang yang paham sikap dan pola pikir Abu dalam mengambil suatu
keputusan, tentu akan menjadi jelas dan mudah mengerti.Melihat kondisi
awal kemerdekaan, menjadi alasan bahwa mengharamkan umat Islam keluar
dari ketaatan pemimpin jika sudah terpilih atau diakui secara mayoritas,
walaupun pemimpin itu fasiq atau jahat, selama ia tidak mengharamkan
umat untuk mengerjakan salat dan farzu lainnya. Maka menurut pemahaman
sunni, pemimpin itu harus tetap ditaati, walau boleh dibenci.Lain halnya
saat Indonesia pascaagresi militer, di mana Pemerintah RI sudah lumpuh
dan tak bisa lagi berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun demikian
situasi di Bukit Tinggi tak lagi aman. Bahkan Daud Beureueh meminta
Presiden PDRI waktu itu Syafruddin Prawinegara hijrah ke Aceh, sehingga
pemerintahan RI masih dapat dipertahankan.Oleh karena itu, secara hukum
agama, Aceh sudah memiliki momentum yang tepat dan boleh untuk
mengumumkan negaranya sendiri demi menghindari kevakuman pemimpin dan
pemerintahan, di mana kehilangan pemimpin menurut ajaran agama dan
keyakinan Abu sangat dilarang dalam agama, seperti dalam salah satu
riwayat ulama fiqih mengatakan: “Enam puluh tahun di bawah pemerintahan
imam yang jahat lebih baik dari semalam tanpa pemimpin.”Jadi, bisa
dikatakan, tak ada kontradiksi antara kedua pandangan Abu dalam hal ini.
Sebab pandangan tersebut berada dalam situasi dan kondisi negara yang
sangat berbeda. Berbagai sikap politik Abu untuk mendukung dan lepas
dari RI juga berpijak atas dasar agama dan dalil-dalil seperti ayat
Alquran dan Hadis, Ijma serta kajian terhadap ilmu Fiqh Siyasah.Kini Abu
telah tiada, manusia yang hanya bisa berencana namun takdir Allah untuk
menentukan apa yang berlaku.
Langganan:
Komentar (Atom)
